Boleh melaksanakan shalat fardu di atas kendaraan, baik sedang berhenti atau berjalan, karena takut terganggu lumpur, hujan, dan sejenisnya. Ini berdasarkan perkataan Ya`la bin Murrah radhiyallahu ‘anhu,
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama para sahabat sampai ke suatu lembah. Beliau mengendarai hewan tunggangannya. Saat itu hujan turun dan tanah di bawah basah. Ketika tiba waktu shalat, beliau memerintahkan muadzin (untuk mengumandangkan adzan). Muazin tersebut mengumandangkan adzan dan iqamah. Kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berjalan menuju hewan tunggangannya dan shalat (berjamaah) bersama para sahabat. (Dalam shalat itu), beliau melakukan shalat dengan isyarat. Gerakan sujudnya lebih rendah dari rukuk.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata, “Perbuatan ini dilakukan oleh para ulama.” Oleh karena itu, shalat di atas hewan tunggangan karena takut terpisah dari rombongan jika turun adalah sah.
Demikian pula jika takut akan keselamatan jiwa dari gangguan musuh atau lemah jika harus naik turun kendaraan.
Hendaknya dia menghadap kiblat sesuai kemampuan, melakukan rukuk dan sujud, serta menjadikan posisi tubuhnya saat sujud lebih rendah dari rukuk, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Ini juga didasarkan atas sifat umum firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At Taghaabun : 16)
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.